Sabtu, 12 September 2009

A. Pengobatan Alternatif yang Islami
Banyak jalan untuk menuju kesembuhan. Tak hanya melalui tata cara pengobatan medis modern, masyarakat saat ini telah memiliki pula pilihan (alternatif) pengobatan non-medis. Dalam pengobatan alternatif, segala metode dimungkinkan, dari penggunaan obat-obat tradisional seperti jamu-jamuan, rempah, yang sudah dikenal seperti jahe, kunyit dan sebagainya, sampai bahan yang dirahasiakan. Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu yang diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan.
Ketika pengobatan medis sudah tidak mampu lagi “menyembuhkan” sakit seseorang, jalan lain yang dipilih adalah pengobatan alternatif. Caranya ini saat ini tengah populer di masyarakat, padahal tata cara penyembuhannya bukan standar pengobatan modern/dokter, bahkan ada pengobatan alternatif yang jika dipikir tidak masuk akal.
Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah muslim, juga tidak lepas dari fenomena ini. Saat ini Pengobatan alternatif bermunculan bak jamur di musim hujan. Apalagi saat ini, biaya pengobatan modern yang dirasakan sangat memberatkan. Belum lagi banyaknya gugatan malpraktik yang setidaknya bisa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap ahli pengobatan modern.
Namun dari fenomena maraknya pengobatan alternatif di tanah air, ada hal yang perlu diwaspadai. Sebab dalam berbagai jenis praktek pengobatan alternatif, terdapat beberapa praktisi yang menggunakan bahan yang dianggap najis dalam ajaran Islam, semisal penggunaan/mengkonsumsi air kencing sebagai obat. Atau praktek pengobatan yang dianggap menjurus pada perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat, dikhawatirkan akan merusak akidah umat Islam. Oleh karena itu penting bagi umat Islam yang ingin memanfaatkan jenis pengobatan alternatif, untuk memilih dan memilah praktek pengobatan alternatif yang sesuai dengan syariat ajaran Islam.
Sebelum berbicara mengenai pengobatan alternatif yang islami, terlebih dahulu kita harus memahami makna dari istilah pengobatan alternatif itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “pengobatan” berarti proses, perbuatan, cara mengobati (KBBI, 1995 : 698). Sedangkan kata “alternatif” berarti pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan (KBBI, 1995:28). Sedangkan secara istilah :
Pengobatan alternatif merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern ( pelayanan kedokteran standar ) dan dipergunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran modern tersebut. Manfaat dan khasiat serta mekanisme pengobatan alternatif biasanya masih dalam taraf diperdebatkan. (Yudha Turana, www.medikaholistik.com )

Oleh karena itu, ada berbagai ragam bentuk dan jenis pengobatan alternatif. Dalam ensiklopedia pengobatan alternatif, jenis pengobatan ini dibagi dalam 3 kelompok besar yaitu :
1. Terapi Energi yang meliputi : Akupuntur , Akupresur, Shiatsu, Do-in, Shaolin, Qigong,, T’ai chi ch’uan, Yoga, Meditasi, Terapi polaritas, Refleksiologi, Metamorphic technique, Reiki, Metode Bowen, Ayurveda, Terapi tumpangan tangan.
2. Terapi fisik yang meliputi : Masase, Aromaterapi, Osteopati, Chiropractic, Kinesiology, Rolfing, Hellework, Feldenkrais method, Teknik Alexander, Trager work, Zero balancing, Teknik relaksasi, Hidroterapi, Flotation therapy, Metode Bates.
3. Terapi pikiran dan spiritual yang meliputi : Psikoterapi, Psikoanalitik, Terapi kognitif, Terapi humanistik, Terapi keluarga, Terapi kelompok, Terapi autogenik, Biofeedback, Visualisasi, Hipnoterapi, Dreamwork, Terapi Dance movement , Terapi musik, Terapi suara, Terapi seni, Terapi cahaya, Biorhythms, Terapi warna.
( Yuda Turana, www.medikaholistik.com )

Menurut Prof. Dr. R. Muchtan Sujatno, dr, Sp.FK, guru besar Unpad dan Ketua SP3T ( Sentra Pengembangan Pengobatan Tradisional ) Provinsi Jawa Barat menyatakan :
“Istilah pengobatan tradisional sebenarnya agak rancu, sebab tradisi siapa dan dari mana? Demikian juga istilah pengobatan alternatif. Karena bisa saja pengobatan A memandang pengobatan B adalah alternatifnya, begitupun sebaliknya. Karena sudah lazim dipergunakan, pengobatan tradisional digunakan sebagai istilah pembanding pengobatan modern atau pengobatan di luar pengobatan kedokteran barat. Padahal di barat, pengobatan tradisional sudah modern, keduanya menjadi alternatif yang bisa dipilih pasien. Pengobatan tradisional dan modern bisa dijadikan komplementer yang saling melengkapi. ( www.Pikiran Rakyat.com , 20 Maret 2005)

Selain itu, karena namanya alternatif, harus benar-benar dijadikan jalan tempuh alternatif atau terakhir. Pengobatan tradisional sendiri memiliki 5 kategori, yaitu:
1. Pengobat tradisional keterampilan. Seperti pijat urut dan patah tulang,dukun bayi, pijat refleksi, akupunturis dan akupresuris, chiropractor, dan pengobat tradisional lainnya yang metodenya sejenis.
2. Pengobat tradisional dengan ramuan. Sebut saja pengobatan dengan jamu, gurah, tabib, shinshe, homeopathy, maupun aromaterapi.
3. Pengobat tradisional dengan pendekatan agama.
4. Pengobat tradisional dengan pendekatan supranatural, termasuk di dalamnya menggunakan tenaga dalam (prana), paranormal, reiky master, gigong, maupun dukun kebatinan.
5. Pengobat tradisional yang menggunakan lebih dari satu pendekatan. ( www.Pikiran Rakyat.com , 20 Maret 2005 )
Dari beberapa jenis pengobatan tradisional/alternatif di atas, umat Islam harus dapat memilih dan memilah jenis pengobatan alternatif yang akan digunakan. Yang harus diperhatikan antara lain adalah bagaimana praktek pengobatan itu dilaksanakan dan dari bahan apa saja obat-obatannya dibuat, sehingga dalam menggunakan pengobatan alternatif dapat dipertanggungjawabkan kemaslahatannya dunia dan akhirat.
Dalam ajaran Islam sendiri, telah mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk didalamnya tentang kesehatan. Kesehatan dalam pandangan Islam bukan hanya kesehatan jasmani, namun juga menyangkut kesehatan rohani. Karena kesehatan itu sangat penting, maka penting pula untuk menjaga kesehatan tersebut. Semua aktifitas manusia akan terganggu bila tubuhnya menderita sakit, termasuk pelaksanaan amal ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, bila menderita sakit, maka kita wajib untuk berusaha dengan berobat untuk menyembuhkannya, karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Bahkan menurut Gamal K. dalam bukunya, “Mendatangi ahli medis, baik itu dokter, tabib, atau ahli-ahli pengobatan lainnya merupakan keharusan dan kewajiban bagi seseorang yang tengah mendapat ujian Allah SWT berupa sakit atau menderita suatu penyakit tersebut.” (2003 : 130)
Sabda Rasulullah SAW :
??? ???????? ????? ????? ?????? ???????? ???? ??????? (???? ???????)
Artinya : “Bagi setiap penyakit yang diturunkan Allah ada obatnya yang juga diturunkan-Nya.” (H.R. Bukhari) (Gamal, 2003 : 27)
????? ????? ???? ???????? ????? ?????? ???????? ???? ??????? ???????????? (???? ???????)
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Maka berobatlah!” (H.R. Nasa’i) (Gamal, 2003 : 27)
Namun perintah dalam hadits ini, tentu saja perintah untuk berobat dengan cara-cara yang dihalalkan oleh Allah SWT., sebagaimana sabda Rasulullah SAW. :
????? ????? ?????? ??????? ????? ??????? ???????????? ????? ?????????? ??????????? ( ???? ??? ???? )
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan.” (HR. Abu Dawud)
Jadi, berobat merupakan perintah syariat, meskipun boleh saja seseorang bersabar dengan penyakit dalam rangka mencari pahala (dan secara syar’i tidak dimakruhkan tidak berobat, sekalipun hidup seseorang dalam bahaya). Namun, berobat lebih dicintai. Upaya untuk berobat sama sekali tidak bertentangan dengan tawakkal seseorang kepada Allah SWT., karena upaya mencari kesembuhan itu tergantung kepada takdir dan kehendak Allah. (Yasin, 2005 : 5-6)
Umat Islam sebenarnya telah memiliki obat yang paling mujarab dalam mengobati berbagai macam penyakit, yaitu Alquran. Sebagaimana firman Allah (Q.S. Al-Israa/17: 82):
??????????? ???? ??????????? ??? ???? ??????? ?????????? ???????????????? ????? ????????? ?????????????? ?????? ???????? {??????? : 82}
Artinya : “Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang- orang yang zalim selain kerugian.” (Ashiddiqi, 1989 : 437)
Juga dalam Firman-Nya (Q.S. Yuunus/10: 57):
??????????????????? ???? ????? ?????? ?????????? ????? ??????????? ????????? ?????? ???? ??????????? ??????? ??????????? ????????????????? {???? : 57}
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Ashiddiqi, 1989 : 315)
???????? ?????????? ?????? ?????????? ?????????? ???? ???????????? ???????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? {??????? : 78 – 80}
Artinya: “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia- lah yang menunjuki aku. dan Tuhan-ku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku…” (Ashshiddiqi, 1989 : 579)
Dari ketiga ayat tersebut di atas, jelaslah bahwa salah satu fungsi diturunkannya Alquran adalah sebagai ??????? (penyembuh/obat) bagi orang-orang yang beriman dan meyakininya. Serta hanya kepada Allah-lah manusia memohon kesembuhan, karena Allah pulalah yang menurunkan penyakit tersebut.
Selain berdoa dan memohon kesembuhan hanya kepada Allah, tentu saja ada ikhtiar atau usaha lahiriah yang harus dilakukan manusia untuk memperoleh kesembuhan. Dalam Alquran memang tidak disebutkan secara terperinci mengenai metode pengobatan atau obat yang harus dipergunakan. Hanya sekelumit saja yang diterangkan, seperti manfaat madu untuk obat dan kesehatan. Sedangkan Rasululah SAW dalam hadis-hadisnya, mengajarkan beberapa cara pengobatan, antara lain melalui sabdanya :
??????????? ???? ????????? ???? ???????? ???????? ???? ???????? ?????? ???? ??????? ??????? ????????? ????????? ???? ???????? (???? ???????)
Artinya : “Kesembuhan dari penyakit itu adalah dengan melakukan tiga hal, yakni : berbekam, minum madu dan dibakar dengan besi panas. Tetapi aku melarang umatku untuk membakar dengan besi panas tersebut. (H.R. Bukhari) (Gamal K, 2003 : 131)
Selain itu, Rasulullah SAW dalam hadis-hadisnya mengajarkan berbagai macam doa dan dzikir, baik itu untuk mengobati atau pun untuk mencegah suatu penyakit. Muhammad Ibrahin Salim menyatakan dalam bukunya; “Dalam Zaadul Ma’aad, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa dalam mengobati penyakit, Rasulullah SAW menggunakan tiga cara. Pertama memakai obat-obatan alami. Kedua, dengan doa. Dan ketiga, dengan keduanya.”(2005 : 18).
Praktek pengobatan atau cara-cara pengobatan yang Rasulullah SAW ajarkan terangkum dalam beberapa hadisnya – sebagaimana dikemukakan oleh Edward G. Browne dalam bukunya :
“Telah disistematisasikan oleh para penulis yang lebih kemudian seperti apa yang disebut Tibbu’n-Nabi atau “Pengobatan Nabi”, dan saya diberi informasi bahwa sebuah manual yang diberi judul itu masih menjadi salah satu buku-buku pertama yang dibaca para mahasiswa pengobatan kuno di India, bersama dengan ringkasan karya Avicenna, Qannun yang dikenal sebagai Qanuncha.” (2002 : 21-22)

Dengan demikian, tradisi pengobatan dalam Islam sebenarnya bahkan telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, walaupun pada prakteknya, bila dilakukan pada zaman sekarang tidak sesuai dengan standar kedokteran modern. Oleh karena itu bila ada yang mempraktekannya saat ini, hal tersebut digolongkan sebagai pengobatan alternatif.
Di masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam, banyak bermunculan praktek pengobatan alternatif yang juga mencantumkan label Islam. Bahkan tidak jarang dalam praktiknya, para praktisi pengobatan alternatif tersebut menyertakan doa dan ayat suci Alquran, serta dzikir-dzikir tertentu. Menyikapi fenomena ini Didin Hafiduddhin (2005) berpendapat :
“Menurut saya hal itu juga tak menjadi masalah, asalkan tak melanggar koridor syariat yang telah digariskan. Misalnya, doa maupun ayat tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Sumbernya dapat ditelusuri baik dalam kitab suci Alquran maupun kitab-kitab lainnya, misalnya hadis. Orang yang melakukan pengobatan juga memang dikenal sebagai orang yang baik. Ia adalah orang yang taat beribadah dan selama ini pemahaman agamanya juga tak menyimpang. Ini memang memerlukan perhatian dan kehati-hatian bagi masyarakat Islam khususnya. Kita juga mesti memperhatikan bahwa orang tersebut tak bersikap arogan. Artinya, ia tak bersikap bahwa dirinyalah yang memberikan kesembuhan dan melupakan campur tangan Allah SWT dalam penyembuhan penyakitnya.” (http://www.republika.co.id)
Dalam usaha penyembuhan dengan ayat-ayat suci Alquran, menyangkut penyembuh dan orang yang akan disembuhkan, karena mereka harus mempunyai keyakinan dan keteguhan jiwa terhadap Sang Pemilik Alquran yaitu Allah SWT. Artinya, penyembuhan menggunakan ayat-ayat suci Alquran, dengan keyakinan bahwa Allah-lah yang menyembuhkan penyakit tersebut, disertai sikap taqwa dan tawakkal hanya kepada-Nya.
Selain itu para ulama telah bersepakat dalam menggunakan lafal-lafal untuk penyembuhan, jika memenuhi beberapa unsur, seperti yang tertulis dalam Fathul Bari dan Fatawa Al-Allamah Ibnu Baz (Gamal K., 2003:121) antara lain :
1. Dengan menggunakan kalam Allah atau dengan nama-nama-Nya, atau sifat-sifat-Nya.
2. Dengan menggunakan kalam Rasulullah SAW.
3. Dengan menggunakan bahasa Arab atau bahasa yang lain yang dapat dimengerti atau dipahami maksudnya.
4. dengan keyakinan yang tinggi, bahwa sesungguhnya hanyalah karena izin, perkenan dan kuasa Allah SWT semata sajalah penyembuhan itu dapat terjadi , karena lafal-lafal tersebut sesungguhnya hanyalah lantaran atau sebab semata.
(Gamal K., 2003:121)
Dengan demikian pengobatan alternatif yang Islami adalah pengobatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, serta tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern, dengan cara-cara yang pernah digunakan oleh Rasulullah SAW ataupun tidak, atau dengan menggunakan doa dan dzikir yang ma’tsurat, atau menggunakan ayat-ayat suci Alquran, serta disertai dengan sikap mengharapkan kesembuhan hanya kepada Allah SWT.












REFERENSI


Turana, Yudha, 2003, Seberapa Besar Manfaat Pengobatan Alternatif ? http://www.medikaholistik.com

Berharap Kesembuhan Melalui Alternatif, Pikiran Rakyat Cyber Media (www.Pikiran Rakyat.com

Gamal K., 2003, Sakit dan Pengobatan Secara Islam, Absolut, Yogyakarta.

Yasin, Al-Badri, Syihab, 2005, Bekam Sunnah Nabi & Mukjizat Medis (Al-Hijaamah Sunnatun Nabawiyyah wa Mu’jizatun Thibbiyyah), Terj. Hawin Murtadlo, Al-Qowam, Solo.

Salim, Ibrahim, Muhammad, 2005 Pengobatan Qur’ani Menyembuhkan Penyakit Melalui Pendekatan Medis dan Agama (At-Tadaawii bi Al-Qur’an wa Al-Istisyfaa bi Ar-Ruqaa wa At-Ta’aawiidz), Terj. Arif Rahman Hakim, Misykat, Jakarta

Browne, Edward G., Dan Iqbal, Muhammad. 2002, Rahasia Pengobatan Secara Islami (Islamic Medicine), Terj. Bambang Udoyono, Inovasi, Jakarta

Hafiduddin, Didin, 2004, Asal Tak Melanggar Syari’at.



Entri pernah diterbitkan di blog lain atas nama penulis.